Zaman era globalisasi menyebbabkan informasi begitu sangat mudah didapatkan, baik itu tentang pendidikan, kerja, mencari teman, bahkanhal-hal yang bersifat negatif. Pornografi misalnya sangat mudah didapatkan dengan cara copy paste dari teman atau mencari di internet menggunakan search enggine, hanya dengan memasukkan kalimat yang berbauh porno ribuan situs porno akan muncul di layar monitor atau LCD dan dengan mudanya di download, tidak hanya itu, video clip, majalah dan film juga menayangkan pornografi.
Dari hal itu penulis mencoba juga menyajikan sebagaian kecil dari dampak pornografi. Tentunya hal ini sebagai upaya untuk memberikan informasi kepada penghobi layanan porno.
Ahli beda saraf dari San Antonio, AS, Donald Hilton Jr MD. Memberikan penjelasan tentang kerusakan otak karena kecanduan pornografi, menurut beliau sejatinya semua keacnduan (adiktif) berpengaruh terhadap kerusakan otak, misalnya kecanduan makanan (obesitas), Judi, narkoba, maupun pornografi.
Hanya tingkat kerusakan otak akibat kecanduan pornografi dinilai paling tinggi, jika dibiarkan hal itu bisa mengakibatkan penyusutan (pengecilan) otak. Ujung-ujungnya terjadi kerusakan otak permanen dan tidak hanya kerusakan tersebut bergantung intervensi medis yang dilakukan.
Hilton menyatakan, penyusutan oatak bisa berangsur-angsur kemabli normal asalkan dilakukan pengobatan secara intens setidaknya dibutuhkan waktu sekitar 1,5 tahun, sebab pada dasarnya, otak terus mengalami regenerasi jaringan. Dengan demikian otak yang mengecil itu bisa kemabli lagi, namun, cepat atau lambatnya pemulihan tersebut bergantung kasus kecanduan yang di derita.
Kerusakan otak akibat kecanduan makanan (obesitas) maupun drugs, cenderung lebih mudah diatasi ketimbang pornografi. Tentunya ada perbedaan antara otak yang sudah kecanduan terhadap sesuatu dan yang tidak. Otak yang terlanjur kecanduan memiliki mekanisme control yang kecil terhadap rangsangan, sebaliknya otak yang belum kecanduan masih memilki control yang besar untuk mencegah perintah agar tidak kecanduan.
Sumber: Jawa Pos , 3 Maret 2009
Filed under: Reinforcment | Tinggalkan sebuah Komentar »